Roy Villevoye di ‘Beyond the Dutch’

Di Centraal Museum di Utrecht diadakan pameran khusus  ‘Beyond the Dutch’ hingga 10 Januari 2010. Karya dari lebih 40 seniman, antara lain Roy Villevoye dan Fiona Tan dengan karya antara lain dari Papua, menunjukkan relasi antara seni rupa Belanda – Indonesia. Di hari terakhir pameran, Moluks Museum bekerja sama dengan PACE dan Kosmopolis menggelar tema siang ‘Beyond Java’ . Antara lain Roy Villevoye tampil sebagai pembicara.

Sesi Debat ‘Beyond Java’

Pada ‘Beyond the Dutch’, dipertunjukkan video 16 menit ‘Owner of the Voyage’ karya perupa Roy Villevoy. Di tahun 2007 dia membuat film di proyeksi layar terpisah bersama Jan Dietvorst yang sudahDari video bekerja sama dengannya sejak 1995. Temanya adalah kunjungan dua anggota suku Asmat (dua bersaudara Rufus Sati dan Rodan Omomá) ke Belanda tahun 2000. Setahun kemudian, sepupu dan teman baik mereka Pupís diwawancara tentang petualangan kedua bersaudara itu. Proyeksi ganda pada ‘Owner of the Voyage’ memperlihatkan perjalanan mereka, bersamaan dengan komentar soal itu. Dalam wawancara Pupís merekonstruksi petualangan kedua bersaudara dari sudut pandangnya sendiri, di mana dia merekam agenda pribadinya. Pada hari Minggu 10 Januari 2010, mantan direktur Museum Maluku Wim Manuhutu ambil bagian dalam debat dengan Roy Villevoye, penulis/ahli biologi/ pengamat seni Tijs Goldschmidt dan fotografer Kim Pattiruhu soal seni di luar Jawa, terutama dari Maluku dan Asmat (di Papua).

Perbincangan dengan Roy Villevoye

Setiap hari Minggu terakhir setiap bulan, direktur Edwin Jacobs dari Centraal Museum mewawancara seniman yang karyanya sedang dipamerkan di museum. Pada waktu bincang-bincang, karya sang Dari seniman akan dibicarakan dan dia bisa menunjukkan obyek favorit dari koleksi museum. Hadirin bisa mengajukan pertanyaan dan ikut aktif dalam perbincangan. Minggu 29 November, Jacobs berbincang dengan Villevoye antara pukul 15.00 dan 16.00. Video Villevoye dipertontonkan setiap hari di pameran. Minat Villevoye akan suku Asmat sudah sejak 15 tahun lalu. Di bekas Papua Nugini Hindia Belanda, Villevoye menemukan keaslian yang menurutnya sudah tidak ada di lingkup seni barat. Sampai sekarang dia masih berkunjung ke sana secara teratur.

Pengaruh Keduabelah Pihak

Dalam ‘Beyond the Dutch’ terdapat dua periode utama: pengaruh budaya jaman konial sekitar tahun 1900an dan periode pascakolonialisme (sekitar tahun 2000). Dari setiap episode dipamerkan seleksi karya yang memberi gambaran jelas akan pengaruh keduabelah pihak dalam seni rupa. Bisa dilihat karya dari sekitar 40 seniman, antara lain Jan Toorop, Isaac Israels, Piet Ouborg, Raden Saleh, Abdullah detail Pasar Bogar dari Johannes Larij, 1910Suriosubroto, Affandi, Hendra Gunawan, Sudjojono, Charles Sayers, Heri Dono, Agus Suwage, Mella Jaarsma dan Tiong Ang. Pameran menganalisa warisan budaya dari jaman kolonialisme dan perubahan radikal yang terjadi dari proses dekolonisasi. Kolonisasi Belanda atas Indonesia meninggalkan banyak jejak dalam pembangunan kedua negara. Ini juga berlaku untuk para seniman. ‘Beyond the Dutch’ menunjukkan bagaimana para seniman Indonesia seiring berjalannya waktu berubah arah; merekalah yang disebut Beyond the Dutch (Melampaui Belanda). Pameran berlangsung hingga 10 Januari 2010.

Beyond the Dutch, 16 Okt 2009 s/d 10 Jan 2010
Waktu: Selasa s/d Minggu 11.00 – 17.00
Minggu 29 November 15.00: Roy Villevoye
Lokasi: Centraal Museum, Nicolaaskerkhof 10, 3512 XC Utrecht

Beyond Java, Minggu 10 Januari 2010 (hari terakhir) dengan antara lain:
Roy Villevoye, Tijs Goldschmidt dan Kim Pattiruhu
Waktu: 16.00 – 19.00, ditutup dengan film dan hidangan Indonesia  
Lokasi: Museum Maluku, Kruisstraat 313, Utrecht