PACE ikut berpartisipasi di situs “perang di hindia belanda”

Pada hari Sabtu tanggal 15 Agustus 2009, bertepatan dengan hari peringatan kapitulasi Jepang, sekretaris negara Jet Bussemaker menerima informasi terkini tentang  pendirian dan lokasi portal situs web “Jaman Perang di Hindia Belanda”. Portal tersebut  yang mengandung informasi tentang lembaga-lembaga warisan  perang dunia ke II di Hindia Belanda  akan dikelola oleh “Indisch Herinneringcentrum Bronbeek” (Pusat Peringatan Hindia Belanda di Bronbeek). Pengolahan situs web ”Jaman Perang di Hindia-Belanda”  akan diserahkan kelak kepada KementerianBussemaker krijft informatie over webportaal Kesehatan, Kesejahteraan dan Olah Raga sebagai bagian program “Warisan Perang”. Ibu NancyJouwe, pimpinan PACE pada kesempatan itu menjelaskan kepentingan organisasi terkecil di antara  lembaga-lembaga warisan yang ikut serta. “Sebuah portal berfungsi sebagai pemandu digital di dunia maya dimana  ilmu dan teknologi abad ke 21 secara ringkas dan terpadu berada dalam satu kesatuan yang tersusun dengan rapih.  Dengan keikutsertaannya  PACE  bukan hanya lebih mudah dapat di akses  melainkan juga akan meningkatkan kemanfaatan dari portal, demikian Ibu Youwe.

 

Sejarah Papua

Yayasan Warisan Budaya Papua yang telah berdiri selama tujuh tahun mengisahkan sejarah Papua Japanse schutter in verkenningsvliegtuigsecara digital  melalui artefak, dokumentasi, buku, film, gambar, peta-peta dan cerita-cerita. Melalui portal kami dapat menampilkan halaman-halaman khusus, gambar, film, kisah-kisah perang dll. Pada warisan Hindia-Belanda sejarah rakyat Papua kurang diberi perhatian meskipun dari aspek sejarah sangat erat hubungan.  Dalam sejarah militer pulau Nieuw Guinea memainkan peran penting karena melalui pulau ini Jendral McArthur dan tentara sekutu berhasil membebaskan wilayah Asia dan Pasifik dari penguasaan Jepang. Selama Perang Dunia II satu-satunya kota di Hindia Belanda yang tidak diduduki Jepang adalah Kota Merauke di Nieuw Guinea.

  

Sejarah Politik

Pentingnya peran pulau Nieuw Guinea juga tercermin dalam sejarah politik. Pada masa 1945-49  peranspotprent Soekarno en Luns Nieuw Guinea semakin bertambah penting. Selain potensinya sebagai tempat tujuan bagi mereka yang tidak disambut oleh republik Indonesia yang baru berdiri, pulau Nieuw Guinea menjadi wilayah rebutan antara Indonesia dan Negeri Belanda. Dalam hal ini keberadaan portal merupakan sarana penting untuk  menampilkan sejarah bukan saja secara visuil melainkan juga melalui kisah-kisah orang. Dengan demikian melalui portal kita dapat melihat dan mendengar bagaimana Perang Dunia II mempengaruhi kehidupan kita semua. Sejumlah peserta dalam portal “Perang di Hindia Belanda”, a.l.PACE,  melalui situsnya sendiri  menyediakan tempat untuk menampung cerita-cerita tersebut. 

Cerita-cerita perang hasil pengalaman sendiri

Pada Proyek Sejarah Lisan dari PACE terdapat kisah-kisah hasil pandangan mata dan pengalaman sendiri warga Belanda, kaum migran generasi pertama asal Papua, warga Indo, Maluku dan mereka yang pernah tinggal di Nieuw Guinea selama dan pasca perang dunia II. Kita dapat baca betapa besar dampaknya perang terhadap keluarga Nancy baik di Negeri Belanda maupun di Nieuw Guinea. Pada tahun 1930 Nappie, kakeknya Nancy berikut keluarganya, tiba di Den Haag pada 1930 setelah lama berabdi kepada pemerintah sebagai asisten-residen di Hindia Belanda. Dengan demikian ibunya Nancy mengalami musim dingin perang dunia di Negeri Belanda. Neneknya, Oma Wiesye, yang telah menjanda, pernah menyembunyikan warga Yahudi di dalam rumahnya di Den Haag. Di belahan dunia lain ayahnya Nancy bekerja untuk pemerintah Jepang sebagai nelayan. Di teluk Hollandia dia tertangkap oleh kapal selam Belanda Amerika dan dimobilisasi. Ayah dan ibunya Nancy saling bertemu di Den Haag pada Konperensi Meja Bundar tahun 1949. Kisah-kisah seperti ini yang menghidupkan portal. Kompleksitas  sejarah menunjukkan bahwa perang ini adalah milik kita bersama.

Baca juga:

  • Sambutan lengkap dari direktur PACE pada tanggal 15 Agustus.

  • Kumpulan catatan-catatan pengalaman Nicolaas Jouwe Perpisahaan dengan Hindia Belanda, 1940-1950. Arsip Nasional, 2008, ISBN 978-0-70301-65-1
     
    Para peserta portal web adalah: Cogis, Palang Merah Belanda ; Pusat Peringatan Hindia Belanda ; Insitituut voor Beeld en Geluid, KITLV; Koninklijk Instituut voor de Tropen; Perpustakaan Kerajaan Belanda; Musium Tentara ; Museon; Museum Bronbeek; Museum Maluku; Arsip Nasional; Nederlands Fotomuseum ;  Lembaga Sejarah Militer; Lembaga Nasional Dokumentasi Perang; Prentenkabinet Leiden; Yayasan Warisan Budaya Papua –PACE;dan  Yayasan Pelita.